<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hanya Cerita</title>
	<atom:link href="http://amirstanishev.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amirstanishev.wordpress.com</link>
	<description>melankolis romantis sadistis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2009 20:47:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='amirstanishev.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hanya Cerita</title>
		<link>http://amirstanishev.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://amirstanishev.wordpress.com/osd.xml" title="Hanya Cerita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://amirstanishev.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jangan jadikan aku Venus</title>
		<link>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/06/06/jangan-jadikan-aku-venus/</link>
		<comments>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/06/06/jangan-jadikan-aku-venus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 20:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amirstanishev</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://amirstanishev.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Malaikat berkejaran membawa butiran-butiran air menuju bumi, keras menghempas wajahku menatap langit. Membasahi serat benang berajut halus, bersambung satu dengan yang lain dalam pola sederhana melindungi kulit telanjangku. “Hei! Berteduh Mir!” Teriak tercintaku dari bawah jembatan layang melintas tak jauh dari Pamuk Bank. “Biar! Sudah dua tahun tak kujumpa kesegaran seperti ini Jeanne!” “Nanti kau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=97&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malaikat berkejaran membawa butiran-butiran air menuju bumi, keras menghempas wajahku menatap langit. Membasahi serat benang berajut halus, bersambung satu dengan yang lain dalam pola sederhana melindungi kulit telanjangku.</p>
<p>“Hei! Berteduh Mir!” Teriak tercintaku dari bawah jembatan layang melintas tak jauh dari Pamuk Bank.</p>
<p>“Biar! Sudah dua tahun tak kujumpa kesegaran seperti ini Jeanne!”</p>
<p>“Nanti kau sakit.” Jeritnya lagi.</p>
<p>“Usah kau pengaruhi tubuhku dengan sugestimu!”</p>
<p>“Kau tak sekuat itu Mir!”</p>
<p>“Itu yang kau kira! Elemenku sudah pernah menerawang arsy, meresapi secebis kepantasannya, immune terhadap fisika!”</p>
<p>Suaraku membaur dengan sentuhan sayap disetiap tetes murni yang berebutan menelusuri lidah, mengalir kedalam relung di tubuhku.</p>
<p>“Darahmu akan menyerap setiap partikel radio aktif dari tetes yang kau bilang bening itu cin.” Serunya sambil mengulurkan tangan, berharap aku ikut berteduh.</p>
<p>“Itu bila kau percaya kondensasi!” Balasku, juga mengulurkan tangan, menjemputnya larut dalam terpaan kasih menyerta hujan.</p>
<p>***</p>
<p>“Ini dua juta lira pa, tak usah dikembalikan, biar buat biaya mengeringkan jok dan karpet.” Kata Jeanne riang, tersenyum, lalu melambai tangan pada supir taksi baik hati yang barusan mengantar kami.</p>
<p>Tangannya melingkar dipinggangku, pipinya tak lepas dari dadaku, meninggalkan jejak atom oksigen yang enggan melepas rengkuhan dua atom hidrogen, lembut mencumbu bebatuan bumi dalam susunan kokoh, menjadi titian yang mengantar kami pada atmosphere venus.</p>
<p>“Basah semua cin.” Ujarnya bergetar menahan dingin.</p>
<p>“Tak sampai mencairkan oksigen seperti malam merkurius bukan?” Jawabku tersenyum mengakrabi keindahannya.</p>
<p>“Sungguh kau akan terus menyibak awan yang selubungi aku? Demi mendapatkan kehangatan malam venus?”</p>
<p>“Aku ingin menjadikanmu bumi, tebarkan benih cinta di ladangmu.” Jawabku, dalam nafas kian memburu.</p>
<p>“Bumi dan planet lain mengorbit searah putaran Thawaf cin, venus tidak, kau bisa dapatkan malamku, pada siangku kau terbakar.”  Kata-katanya bergetar, berusaha ciptakan medan energi untuk menghalau tubuhku, namun terperangkap dalam gravitasinya sendiri.</p>
<p>“Biar kuambil kesempatan, meng-ekplorasi air di permukaanmu.”</p>
<p>“Evolusi biologi mustahil terjadi padaku cin, ketaksabaranmu menguapkan airku.” Kesenduan Jeanne semakin menuntunku.</p>
<p>“Biar terpanggang aku demi cintamu.”</p>
<p>“Tidak cin! Tidak! Aku sungguh ingin menjadi bumi, biar kusimpan Karbon dioksid yang membakarmu, dalam lautku, dalam hijau daunku, dalam tanahku, mungkin kita harus menunggu, hanya dengan begitu aku bisa menjadi bumi, dimana kau bisa tebarkan benihmu, jangan jadi prominen mentari cin, mencoba terus berlari, namun kembali terhempas dalam api, please cin…”</p>
<p>Tangisan itu membangunkan aku, melemparkan aku jauh dari atmosphere venus, terlontar dari selubung awannya, menatapnya yang tak nampak, terlindung cahaya mentari, saat dia begitu dekat, kembali mengorbit pada bumi.</p>
<p>“Maafkan aku cin.” Kuselimuti dia dalam kelembutan kapas, menggantikan tubuhku dalam peluknya.</p>
<p>Aku terbang menuju tiberia, menghirup debu terpanggang mentari, mencari Harut dan Marut, dua malaikat yang memilih siksa dunia,  terbakar diantara tanduk Hattin, demi cumbui keindahan kekasih, bidadari bersinar seperti bintang, di timur saat terbit mentari, di barat saat senja datang. Tapi ia bukan bintang, bidadari itu terkutuk menjadi venus, indah namun sunyi, mengorbit mentari dengan arah menyalahi bumi, menjadi saksi atas kesalahan meragukan Dia, saat memilih manusia, menjadi penghuni dunia.</p>
<p>***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amirstanishev.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amirstanishev.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=97&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/06/06/jangan-jadikan-aku-venus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf1f7736492bf2a70db988c9b8bc9b24?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">amirstanishev</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ciuman Hangat Penuh Hasrat (agar tak mudah patah hati)</title>
		<link>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/29/ciuman-hangat-penuh-hasrat-agar-tak-mudah-patah-hati/</link>
		<comments>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/29/ciuman-hangat-penuh-hasrat-agar-tak-mudah-patah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 16:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amirstanishev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Simply Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amirstanishev.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Kebiasaan kita untuk menghilangkan rasa asli dari sebuah bahan dasar dengan mencampur bahan dasar tersebut dengan bahan-bahan lain, kadang membuat kita kehilangan informasi tentang kesejatian sesuatu. Contoh mudah, kita tidak pernah benar-benar mengetahui rasa daging ayam sebenarnya, yang kita tahu, hanyalah rasa Ayam Kari, Ayam masak habang, bistik ayam. Contoh lain, anak-anak muda pegawai kejaksaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=95&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kebiasaan kita untuk menghilangkan rasa asli dari sebuah bahan dasar dengan mencampur bahan dasar tersebut dengan bahan-bahan lain, kadang membuat kita kehilangan informasi tentang kesejatian sesuatu. Contoh mudah, kita tidak pernah benar-benar mengetahui rasa daging ayam sebenarnya, yang kita tahu, hanyalah rasa Ayam Kari, Ayam masak habang, bistik ayam. <span id="more-95"></span>Contoh lain, anak-anak muda pegawai kejaksaan didepan rumahku, kebiasaan bergaul dengan orang-orang sejenisnya yang biasa dididik dengan kesombongan, membuat mereka lupa bahwa mereka ternyata hanyalah anak muda biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa hal ini menjadi penting? Perasaan sakit hati, kecewa dan tersinggung, adalah akibat dari hilangnya kewaspadaan kita terhadap Raw material, bahan murni yang asli dari apa adanya kita. Contoh, saat kita jatuh cinta, kita sering serta merta menambahkan bumbu-bumbu harapan kedalam perasaan cinta, membangung image agung tentang dia yang kita cintai, membuat diri sendiri lupa, bahwa orang yang kita cintai adalah orang yang punya potensi paling besar untuk menghancurkan kita. Mengapa bisa begitu? Karena sedikit saja dia melenceng dari harapan kita, saat itu juga dia telah melukai kita dengan menghancurkan harapan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa aku menulis ini? Anggaplah sebagai bentuk kecil kecintaanku pada para blogresses kayuh baimbai yang memperkaya domain rasaku dengan prosa indah tentang kesedihan, kesakitan, dan cinta yang meninggalkan. </p>
<p style="text-align:justify;">Kesedihan itu pahit, namun pahitnya buah zaitun adalah bekal utama tentara romawi dalam membangun kekuatan dalam menaklukkan dunia. maka dari itu, aku ingin mentengahkan kembali ide-ide lawas untuk membangun mental konstruktif saat menghadapi kesedihan dalam cinta, jangan bilang aku tak pantas menulis ini, kemampuanku untuk mencintai beberapa wanita sekaligus pada waktu yang sama, membuatku bisa merasakan kesedihan berlipat-lipat saat ditolak beberapa wanita sekaligus dalam satu waktu <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  (narsis ngga ya?)</p>
<p style="text-align:justify;">Okey, agar tak mudah kecewa, mari membekali diri dengan pengetahuan tentang Qhada dan Qadar. Ini penting, karena kekecewaan adalah ujung dari keputusan kita atas sebuah pilihan dari beberapa pilihan yang tersedia. Saat kita memilih, sebenarnya kita berhadapan dengan beberapa probabilitas tak teraba yang disebut takdir. Beberapa buah takdir yang merupakan ujung dari tiap pilihan-pilihan tersedia disebut Qadar. Contoh, saat menuju banjarmasin, kita bisa memilih naik mobil, motor atau jalan kaki, tiga hal ini adalah sekumpulan pilihan. Sekumpulan takdir yang mengiringi pilihan itu adalah, sejuk (bila mobil ber-ac), Kepanasan (bila naik motornya siang hari terik), lelah (bila benar-benar jalan kaki). Tentu saja ini disederhanakan, maka kita sebut saja dengan takdir tereka. Kenyataan bisa saja tak seperti itu, naik mobil bisa tidak enak (bila bersama dengan pacar yang suka marah-marah), naik motor bisa sangat nikmat (saat seorang kekasih memeluk mesra), jalan kaki (ah, aku tak ada ide mau jalan kaki ke banjarmasin <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka saat memilih, hendaklah kita sadari dulu, sekumpulan takdir tereka dan tak tereka, agar diri kita lebih siap dan tidak terluka saat harapan tak sesuai dengan kenyataan, karena kenyataan-kenyataan itu sesungguhnya sudah pernah hadir pada saat kita ingin menentukan pilihan, sebagai probabilitas tak tereka. Hal ini akan membuat kita tidak kecewa saat mendapati ayam masak habang masakan kekasih kita tidak enak, karena pada dasarnya ayam saja (tanpa bumbu, apalagi belum dimasak) memang tidak sesuai dengan lidah kita. Dan tetangga depan rumahku tak perlu diam saja dengan wajah angkuh saat kutegur ramah, karena bisa saja malam esok mereka kuteriaki dengan kasar. Memendam kekesalanku selama beberapa minggu, adalah bentuk kesadaranku akan probabilitas tak tereka makhluk sosial, menegur dengan pelan adalah kewajibanku untuk menjaga ketenangan anak-anakku, meneriaki mereka dengan keras adalah diriku dengan bumbu kesombongan sebagai generasi pertama warga komplek pinus indah jalan pinus 2 <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Okey, ada kemungkinan kita tidak bisa menerima begitu saja keberadaan Qadar, bukankan kita telah berusaha sebaik mungkin dalam memilih? Mengapa masih menuju takdir tak baik? Seperti putus cinta, dicampakkan dan mungkin dilupakan? Lalu apa gunanya akal dalam proses memilih?</p>
<p style="text-align:justify;">Baiklah, akal, perasaan dan nurani sudah bekerja sangat baik saat memilih (anggaplah begitu, kita abaikan kenyataan bahwa ada yang disebut dengan cinta butatatata). Namun, memang sampai disitu saja piranti diri kita, hanya bisa memilih dari beberapa pilihan, dan takdir-takdir selalu lebih banyak yang tak tereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Disinilah kita memerlukan apa yang disebut dengan Istikharah (minta Allah aja yang milihin), caranya begini, setelah bingung mau pilih siapa, yang mana atau bagaimana, ambil wudu, shalat dua raka’at, bacaannya terserah, tak ada surah-surah tertentu yang wajib dibaca (jangan terbelenggu dengan pendapat sebagian ulama, harus baca surat ini, atau surat itu, yang ujung-ujungnya membuat kita malas Istikharah karena gak hapal, ribet kan?)</p>
<p style="text-align:justify;">baca doa berikut “Ya Allah, sungguh aku minta pilihin karena informasi yang kau miliki benar-benar meliputi. Tentukan bagiku Ketentuan-Mu, kumohon Kebaikan tak terabamu yang begitu besar, karena Kau tau aku tidak, Kau nentuin aku tidak, dan Engkau tahu semua yang tak terindera olehku. Bila menurut-Mu ini&#8230;..(sebutin apa/siapa), terbaik bagiku, bagi keber-agamaanku, kehidupanku, dan resiko tanggunganku, Tetapkanlah ia bagiku. Bila menurut-Mu tak baik, jauhkanlah aku darinya, ia dariku.” Kemudian laksanakan pilihanmu, tidak harus menggulung-gulung kertas undian dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa gunanya? Toh setelah itu takdir tetap tak kita ketahui. Begini, dengan pengakuan kemanusiaan kita seperti diatas, maka kita akan diarahkan pada kebaikan, atau keputusan kita akan berujung pada takdir baik, meskipun mulanya tak menyenangkan, tapi pasti akan baik, tunggu sebentar lagi saja. Mungkin takdir kita bukanlah sesuatu yang kita impikan, namun sangat membahagiakan, hal ini disebut serendipity.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin cara diatas tidak berlaku untuk memutuskan menerima atau menolak ajakan ML dari pacar kita, atau mungkin pegang-pegang saja, meskipun sebagian, baik pria ataupun wanita, sama-sama menginginkannya(habis enak sih), saat itu kita harus menjawab tegas, “nikah dulu dodol! Enak aja!” atau begini “emangnya gue cowok apaan? Gue mungkin horni, tapi gak gampangan tau!” tegas dong, tegas!</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun makin love sudah dianggap kewajaran (bagi sebagian), tetap saja itu gak baik (Allah gak suka, Suer!) agar terhindar, bayangkan takdir-takdir susah yang paling mungkin terjadi setelah kita melakukan itu. bagi yang sudah terlanjur susah, ucapkanlah ini “Ya Allah, aku rela dengan keputusan-Mu, demi cinta-Mu padaku, usaikanlah kesusahan ini, gantikan dengan kebaikan, sungguh aku telah salah gunakan kepercayaan-Mu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang terlanjur cinta, dan rasanya gak bisa hidup kalau tidak dengan dia, boleh coba doa ini, “Ya Allah, aku cinta banget ama dia, bila menurut-Mu dia gak bae, please jadikan dia Bae, please&#8230; please&#8230; please&#8230;. muach.. muach&#8230;” (sama Allah ga perlu malu, okey!  )</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang gadis cantik, mahasiswi trisakti, pemain sinetron akhir 90-an, pernah berkata padaku, “aku gak mau lagi ketemu ama kamu, kecuali orang tua kamu datang ke orang tua aku, dan minta aku baik-baik buat kamu!” Wanita itu sekarang menjadi dokter gigi di Jakarta, hidup bahagia sebagai istri kawanku, lulusan amrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku juga pernah berkata pada seorang gadis di Bandung, “kita ga bisa ketemu, kecuali dikantor KUA besok pagi!”</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sekarang aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, namun dengannya, aku mempunyai semua kebahagiaan yang diperlukan seorang pria dari seorang wanita  see? It happens to me, it could happens to you too.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai ketemu pada postingan berikut dalam, BAGAIMANA CARANYA KAWIN LARI YANG AMAN DAN KEMUDIAN DIRESTUI? Hehehehe&#8230; <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Oh ya, aku lupa, Qhada, adalah keputusan Allah atas pilihan yang telah kita putuskan, apakah sesuai dengan keinginan-Nya, diampuni-Nya, atau tercela.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amirstanishev.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amirstanishev.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=95&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/29/ciuman-hangat-penuh-hasrat-agar-tak-mudah-patah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf1f7736492bf2a70db988c9b8bc9b24?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">amirstanishev</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>chapter 01. Lunar orbit</title>
		<link>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/14/chapter-01-lunar-orbit/</link>
		<comments>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/14/chapter-01-lunar-orbit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 14:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amirstanishev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Simply Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amirstanishev.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Beyda memandangi dua bintang berpendar hijau pada langit-langit kamar. Udara lembab equator terasa hingga jantung Istambul. Jemarinya mempermainkan punggung tanganku. “posphornya hampir habis.” Aku berbisik. Dia mengalihkan pandangannya pada lapangan bola klub galatasaray. “kau lihat hamparan hijau itu? itu adalah kehidupan.” mataku berputar menuju lapangan hijau berumput tertata rapi, “dan pagar yang mengelilingi lapangan rumput [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=44&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beyda memandangi dua bintang berpendar hijau pada langit-langit kamar. Udara lembab equator terasa hingga jantung Istambul. Jemarinya mempermainkan punggung tanganku.</p>
<p>“posphornya hampir habis.” Aku berbisik.</p>
<p>Dia mengalihkan pandangannya pada lapangan bola klub galatasaray.</p>
<p>“kau lihat hamparan hijau itu? itu adalah kehidupan.” mataku berputar menuju lapangan hijau berumput tertata rapi, “dan pagar yang mengelilingi lapangan rumput itu adalah batasan. Penonton sorak sorai itu adalah penjaga neraka, siap mencabik siapa saja yang melewati pembatas itu.” beyda meneruskan.<br />
<span id="more-44"></span><br />
“kuliahmu belum selesai, kuliahku apalagi.” Sahutku.</p>
<p>“kita sudah dekat sekali dengan pagar pembatas itu, sorak itu seperti mengelukan, sebenarnya mereka sedang memancing kita menjadi mangsa.” Dia meneruskan. Suaranya pelan hampir tak terdengar, dalam, seperti bergumam. Dia menggeser tubuhnya, berbaring miring, menatapku. Jemarinya memetik dawai harpa yang terbentang melintasiku, denting mengayun dalam tempo lambat membentuk untaian irama sangat indah, membuat bintang hijau pada langit-langit kamar mulai menari.</p>
<p>“jadi aku harus tidur diluar? seperti biasa.”</p>
<p>“sebaiknya begitu, karena aku sedang menggiringmu melintasi pagar pembatas.”</p>
<p>“bagaimana bila tak usah menunggu kuliah kita selesai?”</p>
<p>“keluargaku akan membunuhku.” Beyda menjawab, lebay. Keningnya menyentuh bahuku, suatu kehangatan menyerang, seperti berada disekitar api unggun, panas, meski tak tersentuh api.</p>
<p>“sebaiknya aku segera keluar.”</p>
<p>“iya, selagi sempat.”</p>
<p>Aku berjalan menuju pintu, membukanya, berdiri disana. tanganku memainkan saklar lampu, duapuluh kali terang, duapuluh kali padam. “selamat ulang tahun cin.” kututup pintu kamar itu.</p>
<p>“lima bulan lagi ingatkan aku memainkan lampu itu dua puluh dua kali ya! Aku pelupa!” suaranya terdengar nyaring memembus pintu.</p>
<p>***</p>
<p>Kulintasi sebuah jembatan berwarna putih, tak begitu putih, temaram lampu jalanan dalam kaca bening berbingkai kuningan berukir indah, telah membiaskan warna jingga pada putihnya. Mataku memang menangkap ketidak putihan itu, tapi hatiku tak memperdulikan jingga yang ada. Bagiku tetaplah ia jembatan putih.</p>
<p>“kita dimana sayang?”</p>
<p>Suara itu terasa seperti biskuit renyah yang  dicelupkan dalam air sebentar, lalu diangkat sebelum ia larut. Baru kita merasainya. Sebutlah sebuah kerenyahan yang hampir larut. Kelembutan rapuh. Bukan kelembutan marsmellow yang kenyal. Hampir seperti gulali kapas tapi lebih keras sedikit. Lagipula gulali kapas meninggalkan kesan serat yang tajam saat  bersentuhan dengan lidah.</p>
<p>Begitulah kira- kira rasanya bahasa arab dalam aksen Jordania. Dulu bersama- sama Suriah dan Libanon negeri itu bernama Syams. Salah satu subjek imperium romawi. Untaian kata itu bernilai lebih, bila tercintaku yang mengucapkannya. Seperti menikmati biskuit hampir larut sepanjang malam, dibawah cahaya rembulan penuh, di pinggir jalan kecil, di suatu sudut kota alexandria.</p>
<p>Pertanyaan itu tak jadi kujawab. Ghada menenggelamkan tubuhnya dalam pelukku. Kuinderai gumpalan awan diatas keningnya. Gurun dibawah mataku mencumbui kehangatan wajah yang bersemu merah terkena angin malam. Kulit halus danau beku siberia itu memang rentan terhadap dingin. Usaha tubuh untuk tetap menjaganya dalam kehangatan memberikan efek semu merah. Senyum tipisnya kuintip dari sudut mataku. Matanya menatap kedepan, menerawangi sorotan lampu yang bergerak memutar. Memberi tanda kepada kapal yang merapatinya dari kejauhan, meski lighthouse of alexandria sudah tak ada lagi disana.</p>
<p>Gadis itu memalingkan wajah. Bibirnya menjadi terlalu dekat. Kurasakan kehangatan langit diwaktu senja. Berpasangan dengan laut bias jingga. Hanya terpisah segaris horizon. Langit senja dan laut bias jingga itu mencumbui langitku, mencandainya, lalu surut pada laut bias jinggaku, menari disana, enggan mencumbu keduanya tidak juga segaris horizon diantaranya. Kurengkuh dia lebih dekat. Biar kuresapi langitnya, lautnya dan horizon diantaranya.</p>
<p>Ditolaknya tubuhku, dihiburnya dengan sebuah senyum dan tatapan mata yang berkata, “jangan! Bukan maumu, tapi bagaimana inginku. Biarkan jadi terserah aku.”</p>
<p>Gadis itu berbalik, berjalan menuju pinggiran jembatan putih yang sebenarnya semburat jingga. Dalam sepuluh langkah kususul dia. Keinginanku untuk kembali memeluknya tertahan genggaman tangan di jemariku. Dituntunnya aku menuju pintu huncback biru yang tak tertutup dari tadi. Dia hempaskan tubuhnya pada jok hitam berbahan kulit. Dipaksanya aku untuk tenggelam dalam cinta malam itu.</p>
<p>serangkaian nada memecah desahan angin.</p>
<p>“sayang, telepon. Istrimu.”</p>
<p>Nafas yang sejenak terhenti kembali menghembuskan hawa panas diwajahku.</p>
<p>“Biarlah, tak usah kau angkat.”</p>
<p>“kapan pernikahan kita akan kau kabarkan padanya?” ghada menghela nafas.</p>
<p>****</p>
<p>Aku berhasil lolos melalui gerbang kampus tercintaku, melintasi gerbang sekunder berukuran satu setengah meter. Aku berjalan menelusuri pagar besi berwarna coklat universitas bunga- bunga. Bunga yang sedang mengisi seluruh relung jiwa.</p>
<p>Udara panas, debu dan asap hitam tiada terasa, demi melihat bulan setengah, pada ombak tenang laut merah yang terpantul pada rambut pendek Camila Bosanska. Rambut pendek bertingkat- tingkat seperti potongan gunung muqattam di kota mesir lama.</p>
<p>“sudah lama?”</p>
<p>Dia jawab pertanyaanku dengan gerakan sigap melompat berdesakan kedalam bis yang tidak berhenti saat melewati halte diseberang mesjid hussein. Wajahnya lebih cerah dari purnama saat memantulkan sinar matahari. Tangannya menggapai aku yang sedang terengah berlari menyongsongnya.</p>
<p>“kita makan dimana?”</p>
<p>suara itu bercampur dengan kebisingan disekitar kami. Kesejukan malam laut merah melandaku, dalam himpitan manusia yang menjelma menjadi ikan-ikan berwarna-warni berkejaran disela terumbu karang.</p>
<p>Pertanyaan itu tak langsung kujawab. seperti biasa, butuh paling sedikit 10 menit bagiku untuk meresapi kecantikan Camila. Dalam bahasa arab huruf c yang mengawali nama gadis itu, bila di baca sebagai huruf K dalam bahasa inggris maka artinya adalah wanita sempurna. Bila dibaca sebagai huruf J dalam lidah turki, artinya berubah menjadi wanita cantik. Maka satu kata itu mengandung dua makna sekaligus yang begitu  menggambarkan dirinya. Wanita cantik nan sempurna. Kesempurnaan yang sedang dibakar matahari afrika utara.</p>
<p>“Hei! Bangun! Makan dimana?” tangannya melambai-lambai dekat wajahku.</p>
<p>“terserah!” jawabku setengah teriak.</p>
<p>Terserah adalah jawaban paling tak berguna. Kata yang tidak menyumbang sedikitpun pada sebuah ketidakmenentuan. Terserah bisa juga berarti ketidak berdayaan untuk memproduksi sebuah pemikiran saat otak anda berhenti bekerja. Mungkin disebabkan terlalu banyaknya data yang harus di proses dalam satu waktu, sementara kemampuan prosesing rendah serta tak mendapat dukungan  chace memori  cukup besar untuk menerima informasi lalu lalang dalam memori dinamik yang bisa di akses secara acak, sebagai jembatan antara prosesor dan bank data yang terbatas. Lag yang menyebabkan buffering terlalu lama hingga sistem tak lagi memberi respon.</p>
<p>Bisa juga disebabkan faktor eksternal yang tak bisa diduga kedatangannya. Faktor tersebut tiba- tiba membanjiri resource komputasi dengan paket data tak terbendung. Dalam hal ini faktor tersebut disebut sebagai cinta.</p>
<p>Begitulah, cinta mempunyai potensi sangat besar untuk menghentikan segala kemampuan untuk berfikir dan menimbang segala sesuatu.</p>
<p>“mata kuliah apa yang kau lewatkan hari ini?”</p>
<p>“mmm&#8230; Sejarah perundang- undangan perancis.” Jawabku singkat.</p>
<p>“eh. Mau minum manisan?”</p>
<p>“dimana?”</p>
<p>Gadis itu menunjuk depot minuman diseberang jalan. Kami berlarian ditengah teriakan klakson mobil yang terganggu kenekatan kami. Sumpah serapah dan genggaman tangan dibalasnya dengan tawa kecil sangat menggoda, disertai gerakan jemari melambai manja. Lakunya benar- benar mendiamkan sebagian pengemudi kendaraan yang nyaris menderita kerugian. Dan aku kembali diseretnya ditengah kesemerawutan itu.</p>
<p>Entah dimana perkebunan manisan negeri ini. Depot – depot minuman yang tak menyediakan kursi untuk duduk dapat dengan mudah dijumpai setiap sudut kota. Juga keran – keran air es gratis, akan dengan mudah juga kita dapatkan. Air mineral kemasan mungkin akan menjadi kurang laku. Meletakkan mesin – mesin air es gratis ditempat dikeramaian sungguh sebuah Ide brilliant. Perbuatan baik yang tak terasa, melepaskan manusia dari dahaga.</p>
<p>Sari tebu dingin itu pun hilang manisnya setelah melewati tenggorokanku. Berubah menjadi dingin yang mengalir hingga rongga dada. Masuk kedalam lambung. Dinding lambung bekerja untuk mengisap esensi minuman tadi, memuatnya dalam darah lalu dialirkan keseluruh tubuh. Bila tubuh kita tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengolah glukosa menjadi tenaga, esensi tebu tadi akan menumpuk didalam darah. Sebagian dibuang melalui urine, sebagian tidak. Hal ini menyebabkan darah berkurang kemampuannya dalam menyembuhkan luka. Yang paling fatal, pria akan kehilangan kemampuan untuk ereksi. Jangan sampai ini terjadi.</p>
<p>***</p>
<p>Seperti Biasa. Fikron, Andi, Roni dan aku mengendap – endap diantara bebangunan distrik 10. Maaf, aku mulai kurang nyaman dengan pengulangan -pengulangan kata &#8211; kata untuk menunjukkan bentuk jamak. Seperti bangunan – bangunan dan ikan – ikan. Dalam bahasa arab kata jamak tidak ditunjukkan dengan menambah huruf “S” pada belakang suku kata. Tapi merubah bentuk kata itu, bentuk jamak yang hanya terdiri dari dua suatu  yang jamak, berbeda dengan bentuk jamak tiga suatu atau lebih. Untuk lebih mudahnya begini; kata ikan adalah singular, kata ikan akan berubah menjadi ikanani bila ikan itu berjumlah dua ekor. Apabila ikan itu berjumlah tiga ekor atau lebih maka kata itu akan berubah menjadi aikan, atau seperti sapi, bahasa arab mempunyai sebutan- sebutan tersendiri untuk sapi berumur 6 bulan, 8 bulan atau 9 bu..</p>
<p>“sudah Mir. kau tak sedang mengajar bahasa arab.”</p>
<p>“tapi ini penting Ron. Kesalah pahaman orang terhadap agama kadang-kadang terjadi karena ketidak fahaman mereka terhadap bahasa arab dan betapa berbedanya struktur bahasa itu.” Sahutku.</p>
<p>“kan ada terjemahan?”</p>
<p>“terjemahan bagus Ron. Tapi kemampuan dia untuk merujuk suatu masalah pada literatur sumber terbatas pada pemahaman penterjemah saat menerjemahkan sesuatu itu Ron.”</p>
<p>“Ya sudah, kau pakai saja gaya bahasa kamu yang baru, untuk menyebut komputer dalam bentuk jamak tinggal kau jadikan kekomputer, kaki dalam bentuk jamak tinggal kau bilang kekaki atau aikak. Setuju?”</p>
<p>“stop. Itu orangnya.”</p>
<p>Rupanya dari tadi Fikron tak memperhatikan perdebatan kami. Matanya tertuju pada seorang mahasiswa malaysia berbaju koko, berpeci putih, kurus dan berkaca mata. Dia hampiri mahasiswa itu dan menyeretnya pada kami yang bersembunyi dalam bayangan bangunan. Lelaki kurus itu tampak gugup dan gemetaran.</p>
<p>“ampun, ampun. Saye tak bawa duit.”</p>
<p>“diam kamu pakcik. Dah nak mati masih fiki duit pulak.” Ujar Fikron kejam.</p>
<p>“kami tak nak duit pakcik.” Andi menimpali, bagaimanapun dia mencoba memasang tampang sangar, tubuh cekingnya tak mendukung.</p>
<p>“cakap apa syeikh nour ceramah tadi, kalau tak cerite, awak tak boleh pulang ler.” Fikron semakin kejam.</p>
<p>“u cakap apa ler nih? I tak faham.” Mahasiswa malaysia itu menjawab putus asa.</p>
<p>“sudah lah Fik tak usah sok pakai bahasa melayu, orang malaysia ini aja ngga ngerti.” Roni melerai.</p>
<p>Mahasiswa yang dalam ketakutan itu mengangguk.</p>
<p>“okey pakcik. Kami ingin pak cik menceritakan isi ceramah syeik Nour tadi.” Ujar Roni tenang.</p>
<p>“macam mana ni? I tak faham.” Orang malaysia tadi tampak makin ketakutan.</p>
<p>“tuuuuh.. dia ngga faham juga.” Fikron mulai tak sabar.</p>
<p>“macam mana saye nak faham. Saye pun tak dengar syeikh nour ceramah ape. Saya baru pulang makan.”</p>
<p>“yeeeee&#8230; kirain.. tampang doang lu.” Kami berucap serempak.</p>
<p>“saye ni budak brunei. Bukan budak m’sia. Tak pandai pulak I cakap melayu macam torang m’sia tu.”</p>
<p>***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amirstanishev.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amirstanishev.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=44&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/14/chapter-01-lunar-orbit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf1f7736492bf2a70db988c9b8bc9b24?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">amirstanishev</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>An answered prayer</title>
		<link>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/13/25/</link>
		<comments>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/13/25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 04:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amirstanishev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Simply Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amirstanishev.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Rencana adalah usaha memilih takdir sesuai apa yang kita inginkan dari beberapa takdir yang tersedia namun tak tereka. Kadang takdir yang terjadi adalah suatu menyenangkan kita luar biasa, meskipun sewaktu berencana, bukan takdir itu yang kita kira akan dapati, takdir seperti ini disebut dengan keberuntungan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=25&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rencana adalah usaha memilih takdir sesuai apa yang kita inginkan dari beberapa takdir yang tersedia namun tak tereka. Kadang takdir yang terjadi adalah suatu menyenangkan kita luar biasa, meskipun sewaktu berencana, bukan takdir itu yang kita kira akan dapati, takdir seperti ini disebut dengan keberuntungan.</p>
<p><span id="more-25"></span></p>
<p>Bisa juga yang terjadi benar-benar menyakitkan kita, luar biasa berbeda dengan impian kita tentang takdir yang sudah kita rencanakan, sebagian menyebut ini sebagai kesialan atau peruntungan buruk.</p>
<p>Saat kita membuat rencana kemudian kita bertawakkal dalam melaksanakan rencana itu, maka peruntungan buruk akan menjadi buruk menurut sangka kita saja, karena apa yang kita anggap peruntungan buruk, bisa jadi merupakan sebuah portal yang membelokkan kita pada keberuntungan besar.</p>
<p>Peruntungan yang kurasa sangat menyedihkan adalah saat tak kutemukan Ibu Camila Bosanka dan dia tak ada di Sava pasovski. Ketidak terwujudnya rencanaku itu adalah sebuah portal yang membelokkan aku hingga berada di depan obelisk dekat mesjid Sultan Ahmet. Keberuntungan adalah saat aku bertemu Zebeyda Stanishev tak jauh dari obelisk itu, mungkin keberuntungan itu akan diiringi dengan keberuntungan-keberuntungan lain.</p>
<p>Kucari keberuntunganku disini, didepan pintu apartemen seorang gadis yang baru saja kukenal, mungkin dia bukan siapa-siapa, namun malam itu dia sudah menyambung kembali asaku, setelah putus menjadi potongan-potongan pendek tak berguna, tak bisa mengikat apa-apa.</p>
<p>Mungkin aku terlalu yakin doa’ku di multazam dikabulkan, mungkin Dia mempunyai rencana lain untukku, tentu Dia akan menggantikan doaku dengan kebaikan yang belum dapat aku mengerti. Untuk sementara aku duduk disini dulu, melepas penat.</p>
<p>Terdengar suara pintu terbuka, aku tak tertarik untuk melihat.</p>
<p>“kamu temannya beyda?” seorang lelaki berjas coklat, memakai pantofel, berkaca mata dan berpeci putih.</p>
<p>“oh, iya.” Jawabku terkejut.</p>
<p>“aku Ahmet, ahmet beyezid.”</p>
<p>“oh.” aku mengangguk-angguk, seperti burung.</p>
<p>“masuklah, istirahat dikamarku, adikku sudah siapkan.” Ujarnya lagi, aku masih seperti burung.</p>
<p>“evet ahmet abe, tessekur degil.” Hanya itu yang aku bisa ucapkan dalam bahasa turki, waktu itu.</p>
<p>Aku kembali duduk, tak banyak yang bisa dilakukan oleh seorang pemuda 22 tahun yang baru saja berharap ditimpa obelisk dan tertimbun pasir badai merah. Untunglah aku sangat sadar, kematian bukanlah akhir dari masalah, bahkan masalah yang lebih berat lagi, masalah dengan difinisi berbeda dari masalah yang pernah kuceritakan. Masalah kali ini berarti suatu domain dimana pertanggung jawaban akan dituntut, oleh dua malaikat berwarna hitam mengerikan, bertaring, besar, bersisik dan memegang cambuk, jauh dari gambaran tentang malaikat selama ini, berjubah putih dengan lingkaran putih dikepalanya, dewi lestari tentu tak tahu, aku tahu nama mereka berdua, Nukar dan Nakir.</p>
<p>“masih disini?” Beyda muncul dari balik pintu.</p>
<p>“masih.” Jawabku tersenyum.</p>
<p>“kamarnya sudah selesai kubereskan, lebih baik kamu tidur.”</p>
<p>“kau tak tidur?” tanyaku, heran, bukankah sedari tadi malam dia tak istirahat.</p>
<p>“sebentar lagi aku wisuda, semua menumpuk dalam beberapa hari terakhir ini.”</p>
<p>“baiklah aku tunggu disini.”</p>
<p>Bukannya pergi, gadis itu malah duduk disampingku. Kuperhatikan dia, rok skotland selutut, hitam bergaris merah dan kaos merah dibalik cardigan hitam, lucu, cantik, energik. Melihatnya saja life resource-ku bertambah.</p>
<p>“ya sudahlah sukarno, aku pergi dulu.”</p>
<p>“aku tak suka dipanggil sukarno.”</p>
<p>“kenapa? Kan dia orang hebat?”</p>
<p>“dia hanya pengecut yang bekerjasama dengan belanda agar tidak dibuang di digul.”</p>
<p>“kata siapa itu?”</p>
<p>“said salim, aku lupa judulnya, buku itu bersampul merah.” Jawabku malas.</p>
<p>“yang pasti dia kan proklamator.”</p>
<p>“kurasa orang dibelakang dia yang proklamator, dia dipaksa, sudahlah. Aku tak tahu kebenarannya bagaimana.”</p>
<p>“ya sudah. Kamu tidak ngantuk?”</p>
<p>“belum.” Jawabku, sambil berusaha mengimbangi keceriaannya.</p>
<p>“ya sudah, tunggu sampai aku pulang.”</p>
<p>Begitulah, aku hidup dipenampungan, apartemen sederhana kakak beradik. Menjadi tukang cuci mobil setelah uang hasil bekerja pada bu Yasmin habis, malamnya aku membantu Ahmet beyazit menulis thesis, menelaah buku-buku referensi dan menterjemahkan literatur arab kedalam bahasa inggris. Hari pertengkaran aku, beyda dan Camila, adalah hari zebeyde diwisuda.</p>
<p>Ahmet beyazit menikahkan aku dengan adiknya seminggu setelah kejadian menyakitkan itu, pernikahan sederhana, tak dihadiri banyak orang. Pernikahan yang tidak disetujui keluarga beyda. Mereka ingin agar aku selesai kuliah, baru menikah.</p>
<p>Sebagian orang tidak peduli pada hidup yang seperti lapangan luas hampir tak bertepi, lapangan itu dibatasi oleh suatu pagar yang disebut dengan hudud atau batasan-batasan. Diluar batasan itu adalah pengkhiantan Cinta pada Allah yang telah memberi lapangan luas nan hijau hampir tak bertepi, pengkhianatan berakibat kemarahan dan neraka tak terkira dalamnya. Aku dan Beyda bermain dipinggir pagar itu, sampai kapan kami akan bertahan, sampai kapan kami tidak memutuskan untuk bersama melintasi pagar itu, karena pemandangan diseberang sana terlihat indah. Untuk berjauhan sudah tak mungkin.</p>
<p>Sebagian orang memandang, melintasi pagar itu lebih baik daripada menikah sebelum menjadi sarjana. Terkutuklah orang-orang seperti itu, Ahmet beyazit bukan salah satunya, dia mengerti dan dia berhak, maka dia menikahkan kami.</p>
<p>“masih disitu cinta? belum tidur?”</p>
<p>Beyda berdiri di depanku, cardigan hitam, kaos putih, rok biru menjela bercorak bunga-bunga dalam warna gelap, serta boots tinggi yang melindungi hingga sepasang betisnya.</p>
<p>“aku sedang bernostalgia.” Jawabku tersenyum.</p>
<p>“kau masih mengenangnya?”</p>
<p>“aku mengenang kita cinta.”</p>
<p>“tak usah kau kenang semua.” Jawabnya mencium bibirku.</p>
<p>“tentu cinta.” aku diam diantara ciuman itu, “Tiketnya sudah kau beli?”</p>
<p>“sudah, besok aku ke antalya, lusa kita berangkat ke Cairo.”</p>
<p>“sampaikan salamku pada Ahmet, bilang maaf tak bisa datang.”</p>
<p>“iya sayang, dia mengerti. Aku sudah beli juga kado perkawinan dari kita.”</p>
<p>“apa yang kau beli cin?”</p>
<p>“kau ingin tahu? Ayo masuk kedalam.”</p>
<p>Diraihnya tanganku, dibantunya aku berdiri, selalu begitu, aku tak pernah kuat tanpanya.<code></code><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amirstanishev.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amirstanishev.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=25&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/13/25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf1f7736492bf2a70db988c9b8bc9b24?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">amirstanishev</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jannah Si Bungas</title>
		<link>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/12/si-cantik-jannah/</link>
		<comments>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/12/si-cantik-jannah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 14:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amirstanishev</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karadau urang banjar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amirstanishev.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Aku taungut malihat lakian nang hanyar tiga bulan lalu bapadah handak wan aku. Pahinakan rasa manyasak, burinik banyu sungai martapura asa daras banar dalam karungkungan, masuk kada bapapadahan mahibaki paru-paruku, lamas, banyu daras itu nangkaya mambawa salaksa buluh paring batatak halus, maulah jalur pahinakan larah badarah-darah. “pian pang dingai kada manyasahi kaka, jakanya pian sasahi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=3&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku taungut malihat lakian nang hanyar tiga bulan lalu bapadah handak wan aku. Pahinakan rasa manyasak, burinik banyu sungai martapura asa daras banar dalam karungkungan, masuk kada bapapadahan mahibaki paru-paruku, lamas, banyu daras itu nangkaya mambawa salaksa buluh paring batatak halus, maulah jalur pahinakan larah badarah-darah.</p>
<p style="text-align:justify;">“pian pang dingai kada manyasahi kaka, jakanya pian sasahi, kada harapan pang aku bajadian wan inya.” Kada babatas rasa muarku mandangar panderannya pina kada lalu marasa salah.</p>
<p style="text-align:justify;">“mau pang ulun manyasahi pian, pian kada mangarti sama sakali parasaan ulun, ulun ni binian ka ai, supan tahu kada?” banyu mata balilihan kada sanggup lagi mata manyandang.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu itu aku handak bulik kuliah, makan mi yamin dihiga kampus. Sambil mahadang mi tuntung diulah, kukaluarakan hp, manalepon si Jannah minta bawaakan helem nang tatinggal di parkiran.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“nang hirang Jan, lain nang kuning biasa kupakai tu pang.”</p>
<p style="text-align:justify;">“kadada disini kam.” Jarnya, sunging talingaku mandagar suara Jannah di speakerphone, kugemeti sadikit.</p>
<p style="text-align:justify;">“ma ai ikam nih, kada harapan pang kadada.” Mauk banar si Jannah nih, bungasnya haja, pintar kada.</p>
<p style="text-align:justify;">“nang bagambar lope tu kah? Warna habang anum, banyakan warna habang anum pada hirangnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“iya! Nangitu,” ujarku himung, “lakasilah, ikam handak mi yamin jua kah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“bahapal banar ikam nih, jar hirang, habang anum tu, kada ngalih aku mancari.”</p>
<p style="text-align:justify;">“hirang tu.” Jarku mangaras, “habang anum tu airbrush aja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“iya ai, tapi parak kada kalihatan lagi hirangnya! Bahapal! Sudah gin, tunggui ja, aku pasanakan bakso ja.” Kumatii hp, biar sudah kugamati volumenya masih ja asa sunging talinga.</p>
<p style="text-align:justify;">Jannah kawanku tu sabujurnya bungas banar, kulitnya kada putih pang, tapi kada hirang jua, hidung mancung pina maarab, awak tinggi, lampas, bibir nangkaya angelina jolie. Rumahnya dipinggir banyu subarang masigid, kelotok lalu lalang dihadapan rumahnya, mungkin gara-gara itu inya bakuciak-kuciak tarus bila bepender. Padahal kuitannya sugih banar, manukar motor sambilan gin kawa, tapi rumahnya masuk gang halus, dipinggir banyu pulang. Adaja pang titian ulin dihadapan rumahnya, karekotan bila dijalani manusia, bila sepeda motor nang lalu, suaranya jadi mangguruh, mun kada harat besepeda motor, bisa tacabur kadalam sungai. Titian ulin tu kada suah dibaiki, papannya banyak nang hilang, matan halus palihatku nangitu-itu ja kayunya, apalagi paharatan ulin larang kaya wayahini, maginnya ai titian tadi karikutan. Gara-gara barumah dipinggir banyu itulah si Jannah besepeda motor ja mun tulak ka kampus, umpatku haja pulang, sayang jar sepeda motor inya, kalu pina licak mun lalu digang halus kaluar matan rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ini kelo mun?” matan subarang jalan suara Jannah sudah kadangaran. Aku baunggut, handak bakuciak jua hati asa supan.</p>
<p style="text-align:justify;">“lawasnya ikam nih.” Jarku.</p>
<p style="text-align:justify;">“anu mun ai, harau tu, buhan erna wan si rasyid wala tuh, bapagutan di parkiran.” Jar Jannah, balum lagi duduk.</p>
<p style="text-align:justify;">“sudah pang ikam nih, maharungi urang ja.” Jarku kada katuju.</p>
<p style="text-align:justify;">“biar pang aku maharungi urang, maupang dibiarakan kalakuan nangkaya itu tuh, manyupanakan kampus tahu kada! Bedosa ikam ni bila dibiarakan ja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“bah hai ikam ni Jannah ai, inya kada ikam banarai nang bapagutan, urang pang, bahiri banaraja kelo? Mun takutan bedosa, tagur, jangan dipenderakan ja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“mangaradau ikam nih, aku bahihinip ja bila handak nangkaya itu, di kos-an kah, dimana kah, nangkaya kadada wadah lain ja, atau jangan sama sakali.”</p>
<p style="text-align:justify;">“begegemet pang benender ikam nih, supan tahu lah diliati urang.” Jarku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“urang tu cengang wan kita karna aku bungas, kada manalinga penderan kita pang.”</p>
<p style="text-align:justify;">“bujur ja jar ikam tu, kada usah menelinga gin mandangar ja buhannya penderan ikam kuciak-kuciak.” Kutarik Jannah supaya duduk behinip.</p>
<p style="text-align:justify;">“eh, mun, gulaan tuh, ada gulaan.” Mata Jannah bagirap-girap.</p>
<p style="text-align:justify;">“apa jar bungkusnya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“lain nangini Mun-ai, kadada pang buhan lakian sini pakai kendaraan tu.” Mata Jannah kada bakijip.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuitihi lakian pakai R-6 kaya nggit Rossi, pina kangalihan mamarkir kendaraan ganal gaduk kaya itu, bahual wan tukang parkir, kada hakun maandak kendaraannya kaya nang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“bah nang endek kaya itu gulaan lah? Nangka bantat tu.” Jarku sambil menyendok mi.</p>
<p style="text-align:justify;">“bahai ikam nih, biar nangka bantat mun kendaraannya bengkeng nangkaya tu jadi tiwadak mangkal inya, tahulah ikam?” masihja mata Jannah kada bekijip.</p>
<p style="text-align:justify;">“ikam ni handak wan urangnya kah, wan kendaraannya kah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“barangai, mana nang hakun ja, urangnya kah, kendaraannya kah, badudua kah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“busiah inya meinjam ja, kayapa?”  “bagus tu, artinya inya bisi kawan nangkada engken, biarja kaina inya meninjam pulang pun maapeli aku.” Kada kusangka si Jannah nih pantang mundur urangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“handak wan urangnya tu artinya ikam nih.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ikam pang mamadahakan inya nangka bantat, inya tu urang jua.” Jannah jadi sangit.</p>
<p style="text-align:justify;">“ikam kelo nang mamadahakan inya gulaan bedahulu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“bagus gulaankah bagus nangka bantat?” Jannah kada hakun bakalah.</p>
<p style="text-align:justify;">“mauk ikam nih, sudah gin, handak makankah kada?” Sambil marangut Jannah maluruk saos tomat nang diulah dari kestela masak. Loco kelo? Saos tomat tapi dari bahan kestela.</p>
<p style="text-align:justify;">“kawakah umpat duduk.” Nangka bantat tu badiri dihiga Jannah. Kulihat warung mi yamin ni dasar hibak pang.</p>
<p style="text-align:justify;">“inggih ka ai, duduk ja.” Jannah manyahuti.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku jadi kasadakan paring gasan mangapit mi nang kumakan. Takajut banar mandangar Jannah kada kuciak-kuciak, bepender nangkaya putri raja banjar, maalun, pas banar daun kada badaya dibawa larut sungai barito. Awaknya baulit-ulit wan aku sama banar anak kucing minta diungahi.</p>
<p style="text-align:justify;">“mahala-hala banar ikam ni Jan ai.” Awakku jadi tagapit gara-gara disasaki Jannah.</p>
<p style="text-align:justify;">“ma ai ikam nih, kalu pang inya handak wan aku kaina, kada kasian kah ikam wan kawan umur saini masih kadada acaian.” ujar Jannah babisik, aku jadi kasadakan paring gapit mie ni pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“eh, ikam nang rancak menyerpis kendaraan wadahku tu kelo?” si nangka bantat managur aku.</p>
<p style="text-align:justify;">“bengkel nang mana yu? Oh hi ih, ikam Iwan kelo? Napa balamak banar?” jarku takajut, dasar sudah lawas banar jua pang aku kada batamu wan inya.</p>
<p style="text-align:justify;">“mai ai ikam ni, kesah kada ingat pulang.” Nangka bantat tu lihum, manis jua pang urangnya mun diitihi bubujur.</p>
<p style="text-align:justify;">“lawaskah sudah mahadang ding?”</p>
<p style="text-align:justify;">“hi ih ka ai, sampai dingin bakso ulun nah mahadang pian.” Ujar Jannah makin beulit, aku kasadakan pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kujauhakan wadah supit paring dihadapanku, takutan kalupina habis tatagukku nang haur kasadakan ja mandangar Jannah bacicintaan.</p>
<p style="text-align:justify;">“karamput lalu ikam ni Jan-ai.” Jarku dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">“kada usah dihabisakan gin ding-ai baksonya, kita makanan di Duta Mall ja.” Jar nangka bantat tu pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“jangan ka ai, mubajir ngarannya, biarja ulun habisakan dulu, mun handak makan di duta mall baasa ja pulang.” Uma ai, nangkaya babisik suara si arab nih.</p>
<p style="text-align:justify;">Imbah itu buhannya badua hinip, bapapandangan ja setumat-tumat, pengenten hanyar gin kada kaya itu. si Jannah makin mangijil mambari muar, kesah manyuapi si nangka bantat.</p>
<p style="text-align:justify;">“masih panas ding ai, jar ikam tadi sampai dingin mahadang aku.” Nangka bantat mangipasi muntungnya, kapanasan.</p>
<p style="text-align:justify;">“anu ka ai, panas pulang inya pas pian datang, hati ulun kelo nang manggurak.” Umaaa ai, muarnya aku mandangar Jannah kaungahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untung kada saapa buhannya bajauh, Jannah bahindik-hindik bapadah bulik, aku badiam ja, mahabisakan mi nang kada habis-habis gara-gara kasadakan.</p>
<p style="text-align:justify;">“tahulah ding, kawan ikam tu handak banar wan aku asalnya.” Nangka bantat itu membisiki Jannah tapi kanyaringan, jadi masih kawa aku mandangar.</p>
<p style="text-align:justify;">Karungkunganku badarah karna kabanyakan tataguk paring, dadaku manyasak karna garigitan mandangar karamput si nangka bantat, inya dasar rancak bapadah handak, tiap kali aku menyerpis kendaraan, tapi aku kada suah hakun. Pasti inya mangarang-ngarang kisah karadau wan Jannah, bekesah aku kahandakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amirstanishev.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amirstanishev.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amirstanishev.wordpress.com&amp;blog=7719644&amp;post=3&amp;subd=amirstanishev&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amirstanishev.wordpress.com/2009/05/12/si-cantik-jannah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf1f7736492bf2a70db988c9b8bc9b24?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">amirstanishev</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
